Rabu, 28 Oktober 2015

Metode Ruqyah Mandiri Yang di Rekomendasikan Oleh Rasulullah SAW

Oleh. Ustadz. Suparman Fajar. Lc 
Hp    : 0813 1850 7130 

1.        Metode  Tepukan
Dalilnya :
Utsman bin Abil ’Ash ra berkata: “Ketika Rasulullah SAW menugaskanku di wilayah Tha’if. Sesuatu mengganggu kehkusyukanku setiap melaksanakan shalat. Sampai-sampai aku tidak tahu (lupa) shalat apa yang sedang aku kerjakan. Kemudian aku bergegas menemui Rasululah, untuk menanyakan hal tersebut.” Rasulullah bertanya: “Ada apa denganmu?” Setelah mendengar penjelasanku Rasul berkata: “Itu adalah syaitan, mendekatlah.” Akupun mendekat dan duduk di hadapannya. Kemudian Rasul memukul dadaku dengan tangannya, dan meludahi mulutku, sambil mengatakan : “Keluarlah wahai musuh Allah!” Beliau melakukannya tiga kali. Kemudian berkata : “kebenaran bersama amalmu.” Setelah itu aku tidak pernah lagi merasa terganggu dalam shalat.” ( HSR. Ibnu Majah ).
Persiapan.
a.      Letakkan tangan diposisi tubuh yang sakit,niat meruqyah diri sendiri serta minta pertolongan kepada allah swt
b.      Baca Bismillah 3 x
c.       أعُوذُ بِعزَّةِ الله وَ قُدْرَتِهِ مِنْ شَر مَا أجِدوَ أحَاذِرُ  
d.      Baca surat al fatihah
e.       Baca ayat qursy
f.        Baca surat Al Kafirun , Al Ikhklas , Al Falaq , An Nas
g.      Baca : ukhruj ya ‘aduwwallah kemudian tepuk posisi yang sakit berulang-ulang
2.       Metode Usapan
Dalil:
Apabila  nabi merasakan sakit, beliau meludah sedikit di tangannya (tiga kali) dengan membaca Qulhuwallahu Ahad dan Mu’awwidzatain (An Nas dan Al Falaq), beliau mengusap dengan kedua tangannya setiap apa yang bisa disentuh dari bagian tubuhnya ketika beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam akan tidur, dimulai dengan kepala, wajah dan dadanya.
Persiapan:

a.       Luruskan niat ,niatkan meruqyah diri sendiri dan minta pertolongan kepada allah swt kemudian baca
             3 x بِسْمِ اللَّهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
b.     Baca
اَللهُمَّ رَبَّ النَّاسِ اَذْهِبِ الْبَأْسَ اَشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لاَشِفَاءَ إِلاَّشِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَيُغَادِرُ سَقَمًا
c.       Baca surah al fatihah
d.      Baca ayat qursy
e.      Baca surat Al Kafirun,Al Ikhlas ,al Falaq , An Nas
f.        Tiup tangan kemudian usapkan kebagian yang sakit dan seliruh tubuh.

Selasa, 06 Oktober 2015

MEMBONGKAR MITOS BULAN SURO

Hampir mirip dengan ritual Suro yang dilakukan masyarakat negeri ini, Mesir dahulu punya kebiasaan serupa. Ada ritual persembahan tumbal ke Sungai Nil. Tumbalnya adalah seorang gadis yang masih perawan, lalu dihiasi dengan pakaian dan perhiasan yang bagus dan mewah, sebelum dilemparkan ke sungai Nil.
 
Penyikapan yang salah terhadap kedatangan bulan Suro telah melahirkan keyakinan, mitos dan ritual yang menjerumuskan kepada kesyirikan. Kita harus tahu mengapa ritual-ritual itu sangat berbahaya bagi aqidah kita. Mari kita bongkar mitos bulan Suro sebelum mitos itu membongkar iman kita.
Dalam bulan Suro, ada ritual pemandian pusaka-pusaka dan benda-benda yang dikeramatkan. Ritual itu muncul, karena sikap yang berlebihan terhadap barang-barang tersebut. Masih banyak masyarakat yang meyakini bahwa di setiap benda-benda ada penunggunya. Yang membuat benda tersebut lebih ampuh dan sakti dibanding benda-benda lainnya yang sejenis. Mereka khawatir – terutama pemiliknya – kalau tidak menyediakan sesajen atau melakukan ritual pemujaan, penunggunya tidak betah atau kabur meninggalkan benda tersebut, akhirnya keampuhannya dan kesaktiannya sirna, atau membikin ulah.
Itulah bentuk pengagungan dan ketakutan yang ditujukan kepada selain Allah. Dalam lslam hal itu termasuk bagian dari bentuk kesyirikan. Rasulullah bersabda: “Siapa yang menggantungkan jimat, maka dia telah syirik.” (HR. Ahmad). Di riwayat lain: “Siapa yang bergantung pada sesuatu maka diserahkan kepadanya (Allah berlepas diri dari orang itu).” (HR. Tirmidzi).